Journalinti – Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,05% (month to month/mtm) pada Januari 2026. Angka ini menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,49% (mtm). Secara tahunan, inflasi Sumatera Selatan tercatat 3,33% (year on year/yoy), meningkat dari Desember 2025 sebesar 2,91% (yoy), sejalan dengan tren inflasi nasional yang juga meningkat menjadi 3,55% (yoy).
Dengan capaian tersebut, inflasi Sumatera Selatan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%, mencerminkan stabilitas harga yang terjaga di tengah aktivitas ekonomi yang terus tumbuh.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan menyampaikan bahwa inflasi Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas strategis.
“Komoditas dengan andil inflasi terbesar antara lain emas perhiasan, tomat, bawang putih, serta kacang panjang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga emas perhiasan dipicu meningkatnya permintaan masyarakat terhadap instrumen safe haven di tengah dinamika ekonomi global. Sementara itu, kenaikan harga beberapa komoditas pangan dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, serta terbatasnya pasokan hortikultura akibat gangguan cuaca.
“Tekanan harga pangan ke depan perlu terus diantisipasi, terutama menjelang Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri, di tengah curah hujan yang masih relatif tinggi,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Berbagai langkah konkret telah dilakukan, mulai dari operasi pasar murah, gerakan pangan murah, hingga koordinasi intensif penyaluran beras SPHP bersama Perum Bulog.
Selain itu, distribusi pangan terjangkau juga dilakukan melalui Toko KePo, Rumah Pangan Kita (RPK), serta Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya. TPID Sumatera Selatan juga rutin melakukan pemantauan harga dan ketersediaan pasokan melalui inspeksi langsung ke pasar, distributor, dan produsen.
Sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan, pada kuartal I 2026 telah dilaksanakan Panen Raya Jagung Serentak di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan dengan total luas lahan lebih dari 270 hektare. Panen ini diperkirakan menghasilkan 3–6 ton per hektare dan berlangsung hingga April 2026.
“Panen raya ini diharapkan dapat memperkuat pasokan jagung dan turut menjaga stabilitas harga komoditas turunan seperti telur dan daging ayam ras, khususnya selama HBKN Idul Fitri,” ungkapnya.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah menegaskan komitmen untuk terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk menjaga inflasi tetap terkendali, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif dan berkelanjutan. (vv)














